Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

start and finish

Rabu, 20 November 2013

Pagi yang cerah di ibu kota, 2 anak kecil saling bercanda gurau sambil berjalan menuju sekolah mereka yang berada di dekat rumah mereka. SD Mentari Bangsa merupakan salah satu sekolah dasar yang berada di Jakarta Selatan.
            “Jaka, kalo kamu besar ntar kamu mau jadi apa?” tanya anak perempuan yang bernama Vanilla
            “hmm, aku mau jadi pilot Van. Kamu?” anak laki-laki bertanya balik
            “wah berarti ntar kamu bawa pesawat dong? Hebat! Aku mau jadi dokter, aku mau menolong orang”
            “Vanilla..kalo kita besar ntar kita masih bisa bermain kayak sekarang nggak ya? Apa kita akan jadi orang yang sibuk seperti orang tuaku?” tanya Jaka
            “Jaka ngomong apasih! Tentu saja kita masih bisa main bercanda kayak sekarang!”
            “janji?” Jaka mengulurkan jari kelingkingnya
            “janji” Vanilla melingkarkan jari kelingkingnya di jari Jaka.

10 tahun kemudian…..
            Vanilla terbangun dari tidur nyenyaknya karena jam alarm yang ada di samping tempat tidurnya berdering sangat kuat
            “dasar alarm sialan!” bentak Vanilla kepada alarmnya
Vanillapun berdiri dan bersiap untuk sekolah. Vanilla berjalan dengan gontai ke kamar mandi. Setelah menyiapkan semua perlengkapan yang akan Vanilla bawa ia pun turun ke bawah dan sarapan.
            “Vani hari ini adalah hari pertama kamu menjadi murid kelas 12, kamu harus fokus belajar ya nak” ujar mamanya
            “iya ma, Vani bakal lebih serius belajar di tahun ini” jawab Vanilla sambil memakan roti coklat kesukaannya.
Tinn!!Tinn!!
            “tuh Jaka udah jemput, sana keluar kasian dia kalo nunggu” ujar mamanya
            “Vani sekolah dulu ya ma!” teriak Vanilla sambil berjalan menuju mobil Jaka
            “Hoi jak! Tumben cepet jemputnya” sapa Vanilla ke Jaka yang duduk di balik setir mobil toyota Rushnya
            “kan udah jadi anak kelas 12 makanya harus rajin dong!” ujar Jaka
            “sok rajin lu jak!”
            “hahaha udah siap buat hari pertama sekolah?!” teriak Jaka
            “Siap!!” sahut Vanilla
Vanilla dan Jakatra merupakan 2 manusia yang mempunyai karakter dan sifat yang bertolak belakang. Vanilla menyukai pelajaran hitung-menghitung sedangkan Jaka pelajaran menghafal, mungkin karena itulah Vanilla masuk jurusan IPA dan Jaka jurusan IPS. Jaka sangat terkenal ramah dan baik sama semua orang dan karena sikap baiknya ia menjadi cowok yang termasuk “The Most Wanted” istilah cowok ganteng yang banyak disukai. Selain sikapnya yang baik, Jaka mempunyai wajah yang ganteng, tubuh tegap dan berkulit putih. Yang paling bikin Jaka jadi terkenal di SMAnya adalah dia merupakan kapten tim basket cowok di sekolahnya. Kepribadian Vanilla bertolak berlakang dengan Jaka, Vanilla tidak terlalu dikenal di SMAnya karena Vanilla sangat sulit untuk bersosialisasi dengan orang yang baru ia kenal walaupun demikian Vanilla sangat ahli dalam bidang akademik. Vanilla selalu mendapatkan rank pertama dikelasnya. Hari ini adalah hari pertama mereka menjadi siswa kelas 12 dan di tahun terakhir pada masa SMA ini mereka sama-sama berharap akan menjadi Tahun yang indah namun harapan manusia tidak selalu sejalan dengan apa yang telah Tuhan rencanakan.
            Setiba di sekolah Vanillapun langsung mencari kelasnya sambil berdoa dapat sekelas lagi dengan Mocha. Mochacino atau mocha adalah sahabatnya dari SMP, Mocha adalah sahabat perempuan Vanilla.
            “dua belas IPA 2” gumam Vanilla saat membaca papan nama kelas yang berada diatas pintu kelasnya
            “please give me unforgettable moments for last year in this school” Vanilla berdoa dalam hati
            “Vani?” seseorang menepuk pundaknya
            “Mocha?”
            “Jangan bilang lo di kelas ini..” ujar Mocha
            “Jangan bilang lo….”
            “ASTAGA DEMI APA KITA SEKELAS MO!” teriak Vanilla tanpa memperdulikan siswa lain menatapnya
            “ASTAGA Vani!! Sial kenapa gue harus sekelas sama lo sih? Tuhan kenapa engkau memberikan hamba cobaan yang berat?” ujar Mocha sambil bergaya sok berdoa
            “hahaha!! dasar lu! Udah yuk cari tempat duduk bentar lagi bel masuk”
Hari pertama pun terlewatkan dengan cukup menyenangkan. Saat pulang sekolah Vanilla dan Mocha berjalan ke gerbang bersama.
            “Vani apa kabar cowok lu yang namanya Jakarta gak jadi itu?” tanya Mocha saat mereka berjalan
            “Jakarta gak jadi? Cowok gue? AH! Jakatra maksud lo? Dia sahabat gue!” jawab Vanilla
            “alah lo berdua sahabatan tapi kayak pacaran tau Van! Tuh liat si Jaka udah nunggu lo tuh di depan gerbang. Emang ada ya sahabat cowok yang seperhatian gitu?”
            “dih!! Dibilangin kami berdua Cuma sahabatan doang” jawab Vanilla sambil menghela nafas udah berapa banyak orang yang nanya-nanyain tentang hubungan gue sama Jaka? Dan gue harus jawab kalo kami cuma sahabatan? Tanya Vanilla dalam hati.
            “yaudah deh gue doain lo berdua cepat jadian. Sono gih samperin Jaka kasian nunggu”
            “lo susah ye dibilangin. Yaudah gue pulang duluan ya mo!” ujar vanilla sambil melambaikan tangan ke sahabatnya
Di mobil Jaka mereka mengobrol
            “Jaka, pernah gak lo berpikir kalo kita ini sangat beruntung?” tanya Vanilla
            “beruntung?” tanya Jaka sambil menaikkan satu alisnya
            Aduh bisa gak sih lo gak naikin alis lo gitu jak! Lo keliatan makin ganteng tau maki Vanilla dalam hati
            “Iya, kita sangat beruntung Jaka. Coba lo lihat anak-anak pengamen jalanan itu, mereka gak seharusnya berada di tempat seperti itu dan bekerja di usia mereka” jawab Vanilla dengan nada sedih
            “Ingin rasanya gue bangun sekolah gratis buat mereka. Gue sering mikir kenapa semakin hari orang-orang semakin gak peduli dengan sesama? Banyak orang yang lupa bahwa banyak orang yang gak seberuntung mereka. Tapi mereka yang beruntung dan hidup layak malah gak bersyukur dan bahkan ada yang berniat buat bunuh diri. Apa mereka semua udah gila ya Jak?” Vanilla menjelaskan dengan panjang lebar.
            “bener juga yang lo omongin Van. Yang bikin gue jijik itu sama cewek yang suka operasi plastik, diet yang berlebihan dan pake komestik yang bener-bener menor. Duh gue geli banget tuh sama cewek yang kayak gitu. Mereka kan udah di kasih karunia sama Allah dengan baik adanya. Kenapa sih mereka mesti ngubah bahkan dengan tindakan yang menurut mereka itu bisa mempercantik mereka tapi malah berdampak sebaliknya. Untung lo cewek yang apa adanya ya Van” ujar Jaka tak kalah panjang
Detak jantung Vanilla meningkat lebih cepat saat mendengar kalimat terakhir yang di ucapkan oleh sahabat cowoknya itu. Ada apa dengan jantungnya? Kenapa tiba-tiba berdetak sangat cepat? Ini aneh.
            “Oh iya Van..2 hari lagi kan lo ulang Tahun yang ke 17 tuh. Lo mau kado apaan?” tanya Jaka membuyarkan lamunan Vanilla
            “Apa ya? Terserah lo aja deh mau kasih apa”
            “sebenernya gue udah punya kado sih gue lo tapi gue kok kurang yakin sama kado gue ini ya. Menurut gue kado ini biasa-biasa aja gitu kurang berkesan jadi gue nanya sama lo Van ya siapa tau kalo gue beliin sesuatu yang lo mau itu bakal jadi kado yang bagus” jelas Jaka sambil tersenyum menatap dalam mata Vanilla.
            Oh god gue mesti periksa ke dokter jantung secepatnya, kayaknya jantung gue udah gak beres deh suka berdetak lebih cepat ujar Vanilla dalam hati. Setelah sampai di rumah Vanilla, Jaka langsung pulang karena dia ada urusan dengan teman-teman basketnya.
            Hari-hari berlalu dengan baik, Jaka masih menjemput Vanilla dan saat ulangan Tahun ke 17 tahun Jaka memberikan kado yang tak terduga. Jaka memberikan sebuah scrapbook dan video, Vanilla belum sempat melihat scrapbook dan video itu karena tugas yang sangat menumpuk. Vanilla merasa setelah ulang tahunnya Jaka menjadi aneh dan tiap kali ia bertemu Jaka sering menatapnya sangat dalam dan Jantungnya pun akan berdetak sangat cepat. Dan yang lebih anehnya lagi Jaka sering bertanya “Van ada yang mau lo omongin gak?” dengan tatapan seperti menunggu sesuatu, saat menanyakan itu Jaka terlihat seperti menunggu sesuatu yang sangat penting. Tapi apa yang dia tunggu? Vanilla sering berpikir apa dia telah berbuat janji dengan Jaka dan melupakannya? Tapi setelah ia pikirkan dengan matang Vanilla tidak menemukan janji tersebut. Lalu apakah Jaka menunggu seseorang? Tetapi siapa? Dan kenapa Jaka gak pernah cerita ke dia? Dan pada akhirnya Vanilla pun menyerah dengan rasa penasarannya biarlah waktu yang menjawabnya.
            “Vani, jadi nonton pertandingan basket gak? Ada Jaka kan” tanya Mocha
            “nonton dong! Gue udah gak sabar nih liat pertandingannya” sahut Vanilla
            “yuk capcus ke lapangan gue udah gak sabar lihat anak basket dari SMA Harapan nih! Katanya sih yang namanya Coffin ganteng loh Van!” ujar Mocha dengan semangat
Dasar mocha kalo udah berhubungan sama cowok ganteng langsung deh nyambung. Mereka pun menuju ke Lapangan basket ternyata lapangan indoor itu telah di penuhi dengan penonton. Sesaat sebelum memasuki lapangan basket Vanilla melihat Jaka bersama anak cheers dari SMA Harapan. “Jaka sama siapa sih tadi? Kok gue gak kenal sama itu cewek ya?” tanya Vanilla dalam hati
            “woi! Kenapa muka lu cemberut gitu! Mending lo liat Coffin noh di lapangan lagi pemanasan tuh! Gilaaaa Van ternyata yang di bilangin anak-anak bener banget. Dia itu sangat teramat ganteng” sahut Mocha dengan tatapan memujanya ke arah lapangan. Vanilla yang penasaranpun langsung melihat ke lapangan dan ternyata apa yang di katakan oleh Mocha benar, tanpa disengaja Coffin yang sedang melihat ke arah penonton matanya tabrakan dengan Vanilla. Vanilla seperti merasa dejavu saat melihat mata itu, mata itu sepertinya pernah ia lihat tapi dimana? Vanilla tak tau apa jawabannya yang anehnya Coffin malah tersenyum ke arahnya atau mungkin ke arah penonton lain? Vanilla gak mau terlalu kepedean kan bisa aja ternyata Coffin tersenyum ke orang lain dan tanpa pikir panjang diapun menoleh ke arah sekitarnya. Semua orang pada sibuk berbicara dan gak ada yang melihat ke arah lapangan “Dia senyum ke siapa sih?” tanya Vanilla dalam hati
            “Van kok gue ngerasa senyum Coffin tadi itu buat lo ya? Lo kenal dia ya Van?” tanya Mocha yang melihat kejadian tersebut.
            “Ah masa sih? Dia lagi pemanasan mulut kali makanya senyum gitu, gue aja baru pertama kali ketemu dia kok Mo” jawab Vanilla
            “yakali basket ada pemanasan mulut Van. Ada-ada aja lo!” sembur Mocha. Percakapan merekapun terhenti saat mendengarkan pengumuman bahwa pertandingan akan segera di mulai. Merekapun ambil posisi untuk menonton pertandingan ini.
            Pertandingan basket di menangkan oleh SMA Harapan! Vanilla merasa sangat sedih sekaligus aneh dengan sikap Jaka di lapangan. Dia sangat emosian dan sepertinya dia sedang menutupi masalah yang sangat berat. Setelah pertandingan Vanillapun pulang sendiri naik taksi karena Jaka udah pergi entah kemana.
            Keesokan harinya berita yang sangat teramat tak terduga menyambut Vanilla di pagi hari. Vanilla mendapatkan berita bahwa Jaka mengalami kecelakaan mobil dan Jaka tewas di tempat karena tidak menggunakan seatbelt dan dia mengalami tabrakan yang sangat parah. Ini suatu hal yang sangat tak terduga. Setelah mengikuti acara pemakaman Jaka, Vanilla pun mengistirahatkan dirinya. Di kamarnya Vanilla terus menangisi kepergian sahabatnya itu..bisa dibilang entah dari kapan tepatnya Vanilla mulai jatuh cinta kepada Jaka tetapi ia tetap menutupi perasaan itu sebagai rasa sayang kepada sahabat dan hari ini ia sadar ternyata ia mengerti kenapa jantungnya sering berdetak cepat saat dia bersama Jaka, kenapa dia merasa sangat kesal saat ia melihat Jaka bersama cewek lain. Ya Vanilla sadar akan perasaannya di hari dimana cowok yang sangat ia cintai itu pergi untuk selamanya. Perasaan ini sungguh menyakiti hatinya, penyesalan memang selalu terjadi di akhir. Sesaat Vanillapun teringat dengan kado yang Jaka berikan kepadanya untuk ulang tahunnya yang ke 17, Iapun langsung mencari scrapbook dan CD video yang hadiahkan Jaka.
            “hai Van! Ini gue buat videonya pake kamera HP nih, jadi ceritanya di video ini gue ngajak lo buat inget beberapa kenangan kita dari SD sampe SMA ini. Nah! Ini SD kita dulu Van masih inget gak lo dulu kalo kita berdua pernah buat janji di taman ini? Itu janji zaman anak-anak banget ya tapi setiap kali gue inget sama janji itu gue merasa seneng banget loh! Oke sekarang gue udah di gedung SMP kita yang tepat di samping gedung SD, di SMP kita tetap bersama jadi sahabat tapi lo tau gak Van? Saat kelas 3 SMP gue mulai merasakan ada perasaan yang menyelinap di hati gue. Saat itu gue masih gak tau itu perasaan apa hahaha lo inget gak sih lo pernah kecebur di kolam ikan yang di depan kantor ini? Kalo di inget-inget kayak gini jadinya lucu banget ya tapi asal lo tau saat kejadian itu gue bener-bener khawatir sama lo, gue takut ntar lo sakit. Nah ini dia tempat kita sekarang! Haha mulai di SMA ini gue udah ngerti apa perasaan yang datang ke diri gue Van. Ini gedung lapangan basket indoor, tempat ini adalah tempat favorite gue. Kenapa? Karena lo selalu hadir di setiap latihan maupun pertandingan yang gue ikutin disini. Van, lo tau gak? Ternyata gue jatuh cinta sama sahabat gue sendiri. Iya orang itu kamu Vanilla, kamu mau gak jadi pacar aku Van? Kamu bisa kasih jawabannya kapan aja gak harus cepat kok Van. Dan kalo kamu nolak aku, kita tetap jadi sahabat aku ya! Happy sweet 17 my Vanilla”

Itulah perkataan Jaka yang ada di videonya, Vanilla sangat menyesal baru memutar video itu. Tetapi Vanilla telah bertekad dia bisa menangis sepuasnya hari ini tetapi di hari berikutnya dia gak mau menangis dengan alasan yang sama. Mungkin ini sudah takdir yang di buat oleh Tuhan dan yang harus kita ketahui adalah setiap pertemuan akan berakhir dengan sebuah perpisahan.

SHITO

Minggu, 12 Desember 2010

Tema: Percintaan
Tokoh:
1. Dito
2. Shiren
3. Chika
Di perjalanan menuju kampung halaman mamanya, Dito hanya berdiam diri. Tiba-tiba mamanya berbicara.
“maafkan mama, dit”
Dito yang sudah mendengar kata maaf itu lebih dari 20 kali sudah muak mendengarnya.
“Dito, kamu baik-baik saja kan?”
“Dito baik-baik saja, ma”
“maafkan mama karena sudah gagal, dit”
“lagi-lagi minta maaf !” pikir Dito kesal
Dito masih ingat saat ia dan mamanya memergoki papanya sedang berselingkuh dengan wanita lain. Mamanya langsung marah-marah ke papanya dan dengan spontan mamanya meminta untuk bercerai.
“Dito kita sudah sampai” ujar mamanya membuyarkan lamunan Dito.
Dito melihat sebuah rumah tua yang lama tak dihuni di depan matanya. Dia pun langsung membantu mamanya mengangkat barang-barang mereka ke dalam rumah tersebut.
            Malam yang sunyi, Dito terbaring lelah di kamarnya yang baru.
“kamar ini sangat berbeda dengan kamarku yang dulu” pikirnya. Karena terlalu kelelahan ia pun tertidur dengan nyenyak.
Di pagi hari yang cerah, Dito bergegas pergi ke sekolah menggunakan sepeda. Ia telah di beritahu oleh mamanya dimana letak sekolahnya yang baru. Ketika ia tiba di sekolahnya itu ia telah di  sambut oleh kepala sekolah, Dito pun mengikuti jalan kepala sekolah tersebut dan terhenti di sebuah kelas yang tertulis 2 Fisika 3.
“nah ini kelasmu silakan masuk nak, saya sudah memberi tahu guru yang sedang mengajar bahwa ada anak baru” ujar kepala sekolah
Ditopun masuk dan memperkenalkan diri, setelah itu pelajaran pun di mulai .
TEETTTTT
bel pulang sekolah berbunyi Dito pun bersiap-siap untuk pulang ke rumah. Sesampai di rumah ia tak melihat mamanya.
“mungkin ke puskesmas” pikirnya
Ia tau bahwa mamanya akan bekerja sebagai dokter di kampung yang sekarang ia tinggal.
Hari-hari pun berlalu dengan cepat, Dito sudah terbiasa dengan kampung dan sekolahnya sekarang. Namun suatu hari saat istirahat ia tak ingin ke kantin maka ia pun mencoba untuk melihat-lihat sekolahnya sekarang. Ia berjalan ke arah belakang sekolah, ia terkejut melihat sebuah padang ilalang yang luas terbentang di belakang sekolahnya. Yang lebih mengejutkannya lagi ia melihat seorang cewek sedang duduk sambil membaca buku. Ia pun mendekati cewek tersebut. Cewek itu pun terkejut dengan kedatangan Dito.
“maaf kalo aku sudah membuatmu terkejut” ujar Dito
“oohh gak apa-apa kok” jawab cewek itu sambil tersenyum
“apa yang kamu lakukan disini sendirian?”
“aku sedang membaca buku, kamu sendiri ngapain?”
“kalo aku sih lagi iseng lihat-lihat sekolah eehh gak taunya nemuin padang ilalang ini di belakang sekolah”
“oohhh”
mereka berdua pun terdiam, tiba-tiba bel masuk pun berbunyi. Gadis itu pun menengok ke kanan dan kiri. Dito pun heran dan bertanya
“kenapa?”
“ohh gak apa-apa kok, kamu gak masuk ke kelas?”
“kamu sendiri?”
Tiba-tiba ada seorang cewek datang dengan nafas terengah-engah.
“Shiren !!! maafkan aku telat !!”
“oohh gak apa-apa kok, ohh iya aku perkenalkan ini temanku Chika”
“aku Dito, nama kamu sendiri?”
“ohh iya aku Shiren, Dito kami ke kelas dulu ya. kamu juga cepat masuk ke kelasmu”
Chika pun mengeluarkan sebuah kursi roda dan membantu Shiren untuk duduk di kursi roda itu. Dito pun terpaku melihat kejadian itu.
            Semenjak Dito bertemu Shiren di padang ilalang itu Dito pun menjadi sering pergi ke padang ilalang itu dan bermain bersama Shiren ia tak menyangka ternyata Shiren adalah teman yang enak untuk di ajak ngobrol. Suatu hari Dito mengajak Shiren pergi ke pantai, Dito meminta izin ke orang tua Shiren dengan susah payah tapi pada akhirnya di bolehkan oleh orang tua Shiren. Setiba di pantai Shiren bertanya “Dito ngapain kamu mengajakku ke pantai?”
“ Saat kamu ulang tahun kemarin aku tak memberimu hadiah jadi aku mengajakmu ke pantai sebagai hadiah ulang tahunmu dariku” jawab Dito
“ohhh, terima kasih ya dit”
“iya sama-sama, tapi bisakah kamu menutup matamu?”
“iyaiya”
Shiren mengikuti langkah Dito dan terhenti di suatu tempat. Dito pun berkata “ sekarang kamu bisa membuka matamu”
Shiren terpaku melihat apa yang ada di depan matanya. Terlihat hamparan pasir yang luas dan matahari yang sedang tenggelam. Air mata Shiren tak bisa di hentikan ia menangis bahagia.
“Pemandangan ini yang sangat ingin aku lihat, terima kasih Dito kau telah memberiku hadiah terindah” pikir Shiren
Dito tau bahwa Shiren sangat ingin melihat sunset, maka ia putuskan untuk membawanya ke pantai saat matahari akan tenggelam.
“Shiren coba kau lihat pasir yang ada di sebelah kananmu” ujar Dito tiba-tiba
Shiren pun melihat pasir yang ada di sebelah kanannya, ia terkejut dengan apa yang ia lihat. Di pasir itu tertulis “SELAMAT ULANG TAHUN SHIREN by Dito”
 “terima kasih Dito” ujar Shiren tersenyum dengan bahagia. Ulang tahun yang ke 17 ini sangat berkesan baginya.
            Hari-haripun berjalan seperti biasa, Dito dan Shiren selalu bermain di padang ilalang saat istirahat. Namun sudah seminggu Shiren tak kelihatan di padang ilalang saat istirahat. Dito pun heran dan bertanya tentang Shiren ke Chika,  Dito terkejut saat mengetahui bahwa Shiren sedang di rawat di rumah sakit. Ia pun menanyakan dimana rumah sakit tempat Shiren dirawat dan memutuskan akan menjenguk Shiren sepulang sekolah.
            Setiba di rumah sakit Dito langsung menuju ke ruangan Shiren, ia melihat Shiren terbaring lemah di tempat tidur. Ia pun masuk ke ruangan tersebut dan duduk di samping tempat tidur Shiren
“Shiren kumohon bangunlah, aku ingin kita bermain lagi di padang ilalang, ku mohon Shiren ku mohon” ujar dito sambil menahan tangis
Jari tangan Shiren pun bergerak sedikit, Dito menyadari itu.
“Shiren kau sadar?? terima kasih tuhan kau sungguh baik kepadaku”
“Shiren? Shiren kau mendengarku?” ujar dito lagi
“iya..” jawab Shiren dengan suara sangat kecil
“Dito aku ingin ke pantai, bisakah kau mengantarkanku kesana?” tanya Shiren
“apa?? kau baru saja terbangun dari koma Shiren ! sebaiknya kau tetap istirahat disini”
“tidak mau pokoknya aku mau ke pantai titik !” ujar Shiren kesal sambil mencoba untuk mencabut infus yang tergantung
“oke baiklah aku akan turuti maumu tapi aku ingin minta izin sama dokter dan papamu dulu” jawab Dito sambil menahan Shiren.
            Dokter beserta papa Shiren mengizinkannya, Dito sangat terkejut bahwa mereka mengizinkannya. Dito pun dengan segera membawa Shiren ke pantai. Setiba di pantai baru jam 16.30, Dito merasa lega karena ia ingin memperlihatkan sunset lagi ke Shiren. Dito mendorong kursi roda Shiren ke tepi pantai.
“Dito aku masih ingat saat kau memberikan hadiah ulang tahun kepadaku, kau tau? itu adalah hadiah yang paling terindah bagiku” ujar Shiren
matahari pun mulai tenggelam
“kau tau? mengapa aku sangat ingin melihat matahari tenggelam? aku sangat ingin melihatnya karena orang-orang bilang bahwa saat matahari tenggelam akan merubah warna pantai menjadi berwarna merah dan pantai pun menjadi seribu kali lebih indah dibandingkan saat pertama melihatnya, aku sangat berterima kasih kepadamu Dito karena kau telah mengantarkanku  ke pantai ini. Pantai ini aku beri nama ‘PANTAI SHITO’ keren bukan?”
“iya sangat keren” jawab Dito
“Dito sebelum aku meninggal aku ingin bilang sesuatu padamu”
“kau ini bilang apaan sih? kau tidak akan meninggal !”
Shiren menahan rasa sakit di dadanya yang telah ia rasakan dari tadi, ia ingin Dito tidak menyadari itu.
“Dito aku ingin pantai ini menjadi saksi bahwa aku mencintaimu” ujar Shiren
perkataan Shiren itu membuat Dito terkejut, ia tidak menyangka bahwa Shiren akan mengucapkan kata-kata itu duluan.
“apa kau mencintaiku?” tanya Shiren dengan susah payah karena ia tak sanggup lagi menahan rasa sakit di dadanya.
“iya aku juga mencintaimu Shiren, aku sangat mencintaimu, apakah kau tau kapan pertama kali aku jatuh cinta padamu?”
Shiren tak sanggup lagi menahan rasa sakit yang ada di dadanya, bersamaan dengan matahari yang tenggelam ia pun menghembuskan nafas terakhirnya.
“Shiren?” tanya Dito sambil mendorong Shiren untuk lebih dekat dengan pantai. Dito pun tiba-tiba berhenti karena tubuh Shiren akan terjatuh. Dito menahan tubuh Shiren namun tak ada reaksi apapun dari Shiren. Dito pun langsung meletakkan telunjuknya di bawah hidung Shiren. Dito terkejut, karena Shiren tak bernafas lagi.
            Keesokan harinya di pemakaman Shiren, Dito di beritahu oleh papanya Shiren.
“Shiren mengidap penyakit leukimia sejak kecil. Ia tak mau memberi tau kamu karena ia tak mau kamu kasihani. Dia berubah semenjak kamu datang ke dalam kehidupannya, dia menjadi lebih ceria. Aku pikir dia mencintaimu, makanya aku dan dokter sepakat untuk mengizinkan kalian berdua pergi ke pantai karena kami tau bahwa umur Shiren tak lama lagi”.
Dito pun menyesal karena baru mengetahui semua itu. Di hatinya ia mengucapkan “aku sangat mencintaimu, Shiren. Aku akan selalu ingat dengan pantai kita, pantai shito” sambil memandangi papan kuburan Shiren.
“Hidupku harus tetap berjalan meski tanpamu shiren, aku akan menempuh kehidupan dan masalah baruku tanpamu. Ku harap hidupku akan membaik. Ku kan coba untuk mengikhlaskanmu, karena hidupku masih harus terus berjalan”.

RAINBOW :)

Rabu, 08 Desember 2010





Judul: RAINBOW
Tema: Percintaan
Tokoh: andre dan gita

Gita memandangi seorang cowok yang sangat ia cintai sedang bermain basket sendirian di lapangan basket. Ia masih ingat saat Andre mengungkapkan perasaannya di pesta tahun baru bersama tahun lalu. Saat itu andre mangajaknya ke atas gedung sekolah untuk bermain kembang api bersama sahabat22nya, setiba di atas gedung sahabatnya menghilang dan hanya mereka berdua di atas gedung itu. Lalu andre pun mengungkapkan perasaannya ke gita, gita pun menerimanya karena ia juga mencintai andre.
“heii, kok melamun?” tanya andre yang tiba22 berada di depan gita
“lohh kok kamu disini? bukannya tadi lagi main?” tanya gita heran
“makanya jadi orang jangan suka melamun” jawab andre sambil tersenyum dan mengelus kepala cewek yang sangat ia cintai itu.
“aku main lagi ya, kamu mau ikut?”
“gak ahh lagi males main”
andre pun berlari menuju lapangan basket dan mulai bermain kembali. 10 menit kemudian tiba22 hujan turun, andre pun langsung berteduh. gita memandangi hujan dengan penuh minat.
“sayang kita main basket sambil main hujan yuk” ajak gita mengejutkan
“beneran nih? nanti kapten tim basket cewek kalah lohh” ujar andre sambil bercanda
“gak mungkin ! kapten tim basket cowok bakal kalah !” ujar gita sambil mengambil bola di tangan andre dan mendribbelnya, andrepun mengejarnya. Merekapun bermain basket dengan asiknya. Saat hujan mulai mereda mereka berdua terduduk lemah di lapangan basket. Tanpa di sengaja gita melihat pelangi
“wahhh ada pelangi !” ujarnya sambil menuju ke arah tasnya dan mengambil hpnya
“ayo kita berfoto !” ajak gita
“baiklah” jawab andre
mereka pun berfoto, terlihat sangat jelas pelangi yang ada di atas kepala mereka berdua di foto itu. sungguh indah.
“hmmm, bagaimana kalo pelangi ini kita anggap seperti bintang jatuh?”
“wahh ide yang bagus, ayo kita buat sebuah permohonan” jawab gita
“tapi kita buat permohonan kita di bola basket ini, bagaimana?” ujar andre
“good idea !”
merekapun menuliskan permohonan mereka di bola basket tersebut. Gita memohon ‘semoga dia selalu mencintaiku untuk selamanya’ sedangkan Andre memohon ‘aku sangat mencintainya, ku ingin selalu melihat senyumnya’.
“siapa yang menyimpan bola ini?” tanya andre
“aku aja !” ujar gita
“oke baiklah”
merekapun  memutuskan pulang ke rumah karena pakaian mereka sudah basah kuyup. Setiba di rumah gita memandangi wallpaper hpnya, terlihat fotonya dan andre saat ada pelangi tadi.
            hari22pun berlalu, andre dan gita pun masih sering bermain basket bersama. Suatu hari Gita terlihat kebingungan, lalu andre pun bertanya “kamu kelihatan bingung, ada apa gita?” tanya andre cemas
“hmmm, ada seorang cowok mengungkapkan perasaan cintanya padaku. aku bingung mau menjawab apa” jawab gita
“jangan bilang kalo kamu mau nerima dia?”
“ya gak mungkinlah dre, aku kan cintanya sama kamu bukan sama dia”
“ya udah di tolak dong”
“aku sangat ingin menolaknya tapi dia mengancam akan bunuh diri jika aku menolak cintanya”
“hari gini bunuh diri? gak mungkin !”
“tapi bisa aja kan?”
“gak mungkinlah gita, cowok zaman sekarang kalo di tolak cewek ya cari cewek yang lain”
“iyaya?”
“iya lah”
“baiklah aku akan bicara sama dia besok”
            Keesokan harinya, gita menolak cowok tersebut dan cowok itu bilang kalo dia bakal bunuh diri di atas gedung sekolahnya sepulang sekolah. Gita tidak percaya dengan ucapan cowok itu. Sepulang sekolah, andre melihat ada kerumunan orang. Ia pun bertanya “ada apa sih?”
“ada yang mau bunuh diri” jawab seorang cewek
“siapa?” tanya andre penasaran
“kalo gak salah namanya gita kelas 2”
“gitaa??”
andre terkejut mendengar ucapan cewek itu, tanpa basa-basi andre pun berlari ke atas gedung
“ehh salah maksud aku cowok yang di tolak......” ucapan cewek itu terhenti saat tak melihat cowok yang bertanya tadi(andre)
sedangkan gita yang baru melihat kerumunan orang pun kebingungan, ia pun bertanya “ada apa ya?”
“ada yang mau bunuh diri, tuh lihat” jawab seorang cowok sambil menunjuk ke arah orang yang bersiap-siap akan melompat
gita terkejut saat melihat siapa yang akan bunuh diri. Ia pun langsung berlari menuju atas gedung.
            Andre yang baru saja sampai di atas gedung melihat orang yang mau bunuh diri itu(ia menyangka bahwa orang itu adalah gita) melompat ke bawah. Andre pun berlari secepat kilat melewati kerumunan orang yang sedang asik menonton. Tanpa pikir panjang ia pun ikut melompat dan teriak “GITAAAAAAAA !!!!”
Gita yang baru saja tiba melihat cowok yang melompat  ke bawah bukan seperti cowok yang ia tolak melainkan cowok yang ia cintai. Dan saat cowok tersebut teriak namanya ia semakin yakin bahwa cowok yang barusan ia lihat melompat bukanlah cowok yang ia tolak melainkan ANDRE !. Gita pun bertanya “apa yang melompat barusan adalah andre?”
“iya, dia barusan melompat sambil teriak gita. Aku bingung kok dia ikut22an bunuh diri” jawab seseorang
gitapun langsung mencoba untuk berlari tapi ia di hentikan oleh seseorang dari kerumunan. gita hanya terduduk lemah dan menangis sedih.sangat sedih.
            Keesokan harinya di pemakaman andre, gita tak bisa menghentikan tangisnya. Ia tak menyangka kalau andre akan menghilang dari kehidupannya secepat ini. Gitapun memutuskan untuk pulang karena tak sanggup berlama-lama di kuburan andre, tapi saat ia akan pulang ada seorang cewek menghalangi jalannya.
“akulah yang membuat dia melompat” ujar cewek itu membuat gita terkejut
“aku yang telah memberi informasi yang salah kepadanya, aku sungguh tak bermaksud untuk membuatnya bunuh diri.” jelas cewek itu
“apa? aku tak mengerti” ujar gita
“waktu kejadian ada orang bunuh diri, si andre itu nanya sama aku ada apa sih trus aku jawab ada orang yang bunuh diri namanya gita kelas 2. aku baru sadar kalo aku salah ngomong dan langsung mau ngomong yang bener kalo yang bunuh diri itu cowok yang kamu tolak tapi andre sudah gak ada lagi di belakang aku, aku rasa ia sangat mengkhawatirkanmu saat itu.” jelas cewek itu panjang lebar
Gitapun terdiam, ia baru mengerti alasan andre ikut melompat.
“maafkan aku” ujar cewek itu
gita tak menjawab ia langsung berlari ke mobilnya dan pulang. Setiba di rumah ia memutuskan ke taman belakang rumahnya. Di taman belakang rumahnya terdapat lapangan basket, gitapun memutuskan untuk bermain basket. Setiba di taman belakang gita terpanah dengan sebuah benda bulat yang terletak di tengah lapangan basket, benda itu adalah bola basket andre. Gitapun memutuskan untuk bermain dengan bola basketnya. ia bermain dengan sangat galau, bola yang ia shoot tak pernah sekalipun masuk ke dalam ring. Saat kekesalannya memuncak hujan pun turun dengan deras, gita tak memperdulikan hujan itu. Ia tetap bermain dengan gilanya. Saat hujan mulai mereda gita terduduk lelah di lapangan itu, nafas nya sudah gak karuan lagi. Ia sangat kelelahan, lalu ia pun tiduran di atas lapangan basket sambil memandangi langit. Ia tertegun saat melihat pelangi ada tepat di langit atas kepalanya, pelangi itu terlihat sangat jelas.sungguh indah. Gitapun bergumam di dalam hati “setiap kali aku melihat pelangi di langit aku selalu terbayang oleh wajahmu yang selalu tersenyum manis kepadaku, selamat tinggal andre aku akan selalu mengingatmu. Pelangi adalah saksi akan cinta kita, ku beri nama pelangi kita dengan nama RAINBOW of  MY LOVE

                                TAMAT
Made With Love By The Dutch Lady Designs